Menbud Fadli Zon Salurkan 17000 Paket Rendang untuk Sumatera

Menbud Fadli Zon Salurkan 17000 Paket Rendang untuk Sumatera
Menbud Fadli Zon Salurkan 17000 Paket Rendang untuk Sumatera

JAKARTA - Semangat Ramadhan tahun ini diwujudkan dalam aksi nyata yang memadukan kebudayaan dan kepedulian sosial. 

Menteri Kebudayaan Fadli Zon secara resmi membuka “Ramadhan of Food Performative: Rendang untuk Sumatera” di Makara Art Center, Universitas Indonesia, Depok.

Program tersebut menyalurkan 17.000 paket rendang siap saji bagi warga terdampak bencana di Sumatera, sekaligus menegaskan gastronomi sebagai aksi solidaritas nasional.

Inisiatif ini menjadi gambaran bagaimana warisan kuliner Nusantara tidak hanya hadir sebagai identitas budaya, tetapi juga sebagai medium empati dan bantuan kemanusiaan. Melalui pendekatan yang menyatukan pangan, seni, dan kolaborasi lintas lembaga, kegiatan tersebut menghadirkan bentuk gotong royong dalam kemasan yang kreatif.

Kegiatan kolaboratif antara Kementerian Kebudayaan, Marandang Institute, Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia, Dewan Kesenian Jakarta, dan berbagai pihak lainnya ini memadukan pangan dan seni pertunjukan, musik, puisi, hingga pameran etnografi dalam semangat solidaritas Ramadhan. 

Perpaduan tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan dapat bergerak serentak bersama misi kemanusiaan.

Rendang sebagai Objek Pemajuan Kebudayaan

Dalam sambutannya, Fadli menyebut pendekatan tersebut sebagai inovasi budaya yang menggabungkan seni dan kepedulian sosial secara simultan, seraya menegaskan gastronomi sebagai objek pemajuan kebudayaan.

“Rendang atau randang dalam penyebutan Minang adalah bagian dari kekayaan budaya kita yang luar biasa. Variannya sangat banyak, bahkan di Sumatera Barat saja terdapat puluhan jenis rendang di berbagai kabupaten dan kota. Inilah kekayaan megadiversity Indonesia, termasuk dalam kuliner,” jelas Menbud melalui siaran pers yang diterima dan dikonfirmasi di Jakarta pada Minggu (1/3).

Pernyataan tersebut menekankan bahwa rendang bukan sekadar hidangan, melainkan simbol keberagaman dan identitas nasional. Kekayaan variasinya mencerminkan luasnya tradisi kuliner Indonesia yang berkembang dari akar budaya lokal.

Selain sebagai simbol budaya, rendang juga dipandang memiliki nilai strategis dalam konteks kebencanaan. Daya tahannya yang lama serta kemampuannya untuk langsung dikonsumsi membuatnya relevan sebagai bantuan pangan darurat.

Nilai Strategis Rendang untuk Situasi Bencana

Fadli menegaskan bahwa pilihan rendang sebagai bantuan bukan tanpa pertimbangan. Ia menyampaikan bahwa makanan ini berbasis bahan lokal, tahan lama tanpa pengawet, dan dapat langsung dikonsumsi tanpa pemanasan.

“Gotong royong adalah kunci. Kolaborasi lintas institusi seperti ini menunjukkan bahwa dengan semangat kebersamaan, kita dapat menghadirkan solusi nyata bagi saudara-saudara kita yang terdampak musibah,” tambahnya.

Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya sinergi berbagai elemen masyarakat dalam merespons situasi darurat. Melalui kolaborasi yang terorganisasi, bantuan dapat tersalurkan secara efektif sekaligus tetap mengedepankan nilai budaya.

Sebanyak 17.000 paket rendang siap saji disiapkan untuk warga terdampak bencana di Sumatera. Program ini sekaligus menjadi bentuk konkret bahwa kebudayaan dapat hadir sebagai solusi praktis dalam kondisi krisis.

Kolaborasi dan Falsafah Minangkabau

Wakil Rektor UI Bidang Riset dan Inovasi, Hamdi Muluk, menyebut kegiatan ini merefleksikan falsafah Minangkabau “Tungku Tigo Sajarangan”.

“Kegiatan diplomasi budaya melalui rendang bukan hanya memperkuat identitas budaya, tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap saudara-saudara terdampak bencana. Ini adalah wujud kontribusi perguruan tinggi dan komunitas budaya bagi masyarakat,” ujarnya.

Falsafah tersebut menekankan pentingnya kebersamaan dan keseimbangan peran dalam masyarakat. Dalam konteks kegiatan ini, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, komunitas budaya, dan masyarakat luas menjadi cerminan nyata nilai tersebut.

Partisipasi berbagai lembaga memperlihatkan bahwa diplomasi budaya dapat dilakukan melalui medium kuliner. Rendang menjadi penghubung antara tradisi, solidaritas, dan aksi sosial.

Produksi Gotong Royong 1,5 Ton Rendang

Pada kesempatan yang sama, Chef Aidil Usman menambahkan, gerakan ini menyiapkan 1,5 ton rendang dengan dukungan 26 wajan, 26 kompor gas, dan 26 tungku sebagai investasi fasilitas produksi berbasis gotong royong dan donasi masyarakat.

Skala produksi tersebut menunjukkan besarnya partisipasi dan dukungan publik terhadap gerakan ini. Proses memasak dilakukan secara kolektif, mencerminkan semangat kebersamaan yang menjadi inti kegiatan.

Dengan dukungan fasilitas produksi yang memadai, distribusi paket rendang diharapkan berjalan lancar dan tepat sasaran. Program ini tidak hanya menghadirkan bantuan pangan, tetapi juga memperkuat jejaring kolaborasi budaya.

Melalui “Ramadhan of Food Performative: Rendang untuk Sumatera”, gastronomi tampil sebagai jembatan antara tradisi dan solidaritas. Perpaduan seni, budaya, dan aksi sosial tersebut menjadi bukti bahwa kebudayaan memiliki peran strategis dalam merespons tantangan kemanusiaan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index